Penyebab Leukimia dan Cara Pengengobatan Leukimia

Penyakit leukimia merupakan salah satu mimpi buruk bagi sebagian orang. Bagaimana tidak, Leukimia tergolong penyakit yang dapat menggerogoti daya tahan tubuh dengan cepat.

Penyebab Leukimia sebenarnya sudah banyak dibahas diberbagai sumber. Mulai dari buku, jurnal, bahkan di internet pun tidak kurang-kurang. Namun tetap saja ada sejumah orang yang tidak tahu penyebab Leukimia yang sebenarnya meningkat efek dari Leukimia cukup mengerikan.

Leukimia adalah kanker yang menyerang sel darah dan sumsum tulang belakang, atau dikenal juga dengan kanker darah. Leukimia mepengaruhi produksi dan fungsi leukosit atau sel darah putih dalam melawan infeksi, karena DNA darah mengalami kerusakan. Konddisi tidak normal tadi menyebabkan sumsum tulang belakang memproduksi sel darah putih secara berlebihan. Hal ini mengakibatkan penumpukan dalam sumsum tulang dan mengurangi jumlah sel darah yang sehat.

Penyebab Leukimia

Penyebab Leukimia secara umum sebenarnya belum diketahui secara pasti. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab Leukimia, mulai dari kelainan kromosom, paparan polusi, paparan radiasi, merokok, obesitas, dan lain sebagainya.

Dengan kata lain, penyebab Leukimia bisa berasak dari faktor eksternal dan internal tubuh. Faktor penyebab Leukimia secara eksternal adalah termasuk paparan radiasi, polusi, zat kimia tertentu yang berbahaya.

Paparan Radiasi

Sebuah penelitian menemukan bahwa radiasi dalam jumlah rendah tetap bisa meningkatkan risiko seseorang terkena leukimia. Itulah sebabnya wanita yang sedang hamil sangat tidak di sarankan untuk melakukan rontgen atau pemeriksaan sinar X. Hal ini untuk menjaga agar risiko si jabang bayi terkena leukimia bisa ditekan.

Unsur Kimia Radon

Anda juga harus waspada dengan Radon. Unsur kimia dengan sifat radioaktif yang berwujud gas tidak berwarna serta tidak berbau ini, ternyata secara alami bisa di temukan di lingkungan sekitar dan masuk ke dalam rumah. Bila terhirup, partikel alpha yang di pancarkan radon berpotensi menyebabkan kanker leukimia. Salah satu sumber produksi Radon datang dari proses pemecahan alami dari uranium. proses ini bisa terdapat dari bebatuan volkanik dan dari tanah. Namun dalam bberapa kasus, air sumur pun ada yang mengandung Radon. Jadi, selalu pastikan ventilasi ruah anda memadai dan udara bisa mengalir dengan baik, karena Radon yang lebih berat dari udara biasanya akan mengendap dekat dengan lantai.

Benzena

Selain dalan bensin, senyawa kimia organik yang d kenal dengan nama benzena atau benzol juga banyak di gunakan dalam produksi obat, plastik, bensin, karet buatan, tinta printer, seta pewarna rambut. Padahal, benzena ini ternyata bersifat karsinogenik atai bisa menyebabkan kanker. Anda juga bisa terpapar benzena dalam kadar tinggi bila merokok atau menggunakan shisha dengan tambahan tembakau. Semakin sering dan semakin banyak anda terpapar benzena, risiko anda terkena kanker leukimia juga akan semakin tinggi.

Rokok dan Kopi

Lagi-lagi- rokok menjadi penyebab penyakit mematikan. Sebuah studi di tahun 2009 menunjukan bahwa risiko terkena leukimia bukan hanya bagi orang dewasa yang merokok, tapi juga anak dengan orangtua perokok, termasuk bisa orangtua sudah merokok sebelum masa kehamilan. Ini dikarenakan karsinogen yang ada dalam rokok di serap oleh paru-paru dan di alirkan melalui pembuluh darah. Sedangkan data studi French ESCALE tahun 2013 memperlihatkan hasil bahwa meminum lebih dari 2 cangkir kopi setiap hari selama masa kehamilan bisa sedikit meningkatkan risiko bayi terkena leukimia.

Obesitas

Masih belum mulai menjalankan pola makan sehat dan olahraga teratur ? Ayo segera bulatkan niat, karena orang yang mengalami oba=esitas atau berat badan berlebihan memiliki risiko terkena kanker leukimia yang lebih tinggi di bandingkan dengan orang yang berat badannya normal.

Meski belum ada praktik yang benar-benar terbukti bisa mencegah leukimia, para dokter dan peneliti merekomendasikan anda untuk berhenti merokok, menjalankan gaya hidup sehat, menghindari radiasi, menghindari paparan terhadap bahan kimia (termasuk lem, produk pembersih rumah, detergen, serta cat lukis), serta melakukan pemeriksaan darah secara rutin.

Gejala Leukimia

Secara umum, gejala Leukimia ditahap awal tidak begitu terlihat. Namun, anda dapat mewaspadai salah satu gejala Leukimia berikut ini yang timbul.

  • Anemia dan gejala yang terkait, seperti kelelahan, pucat di bibir, pucat di konjungtiva mata bisa menjadi salah satu tanda gejala Leukimia.
  • Kecenderungan untuk memar atau mudah berdarah, termasuk pendarahan dari gusi dan hidung, atau darah dalam tinja atau urine bisa menjadi salah satu gejala Leukimia.
  • Selain itu, gejala Leukimia salahsatunya juga kerentanan terhadap infeksi seperti sakit tenggorookan atau pneuminia bronkial, yang bisa disertai dengan sakit kepala, demam ringan, sariawan, atau ruam kulit.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening, biasanya di tenggorokan, ketiak, atau selangkangan.
  • Kehilangan nafsu makan dan berat badan juga merupakan salah satu gejala Leukimia.
  • Ketidak nyamanan di bawah tulang rusuk kiri bawah (yang disebabkan oleh limpa bengkak).
  • Jumlah sel darah putih yang sangat tinggi dapat mengakibatkan masalah penglihatan karena perdarahan retina, teling berdenging (tinnitus), perubahan status mental, ereksi berkepanjangan (priapismus), stroke, ataupun kejang karena perdarahan di otak. Jika beberapa gejala Leukimia ini muncul, maka siapapun harus waspada.

Cara Mengobati Leukimia

Pada dasarnya cara mengobati Leukimia bisa di bilang harus dengan seksama. Pasalnya, tujuan pengobatan leukimia ini adalah untuk menghancurkan sel-sel kanker dan memungkinkan sel darah yang normal di bentuk di dalam sumsum tulang. Keputusan pengobatan leukimia didasarkan pada jenis leukimia yang dimiliki, stadium penyakit, usia dan kondisi kesehatan secara umum.

Jenis leukimia sendiri di lihat melalui pemeriksaan mikroskopis sumsum tulang, apakah jenis leukimia limfoblastik atau mieloblastik. Pemeriksaan ini juga dapat menentukan apakah leukimianya masuk kategori akut atau kronis.

Leukimia Limfoblastik akut

Cara mengobati leukimia limfoblastik akut (ALL) memiliki 3 langkah yang terdiri atas tahap induksi, konsolidasi, dan pemeliharaan.

Leukimia Mieloblastik akut

Pengobatan leukimia mieloblastik (AML) didasarkan pada susunan genetik dari sel myeloid normal. Rencana pengobatannya biasanya memiliki 2 langkah yang meliputi induksi remisi dan terapi pasca-remisi.

Terdapat subtipe dari AML disebut promyelocytic leukimia akut, sehingga pasti mendapatkan obat-obatan lain, seperti arsenik trioksida dan obat all-trans retinoic acid (ATRA). Transplantasi sel induk dan kemoterapi juga di gunakan ketika leukimia tidak respon terhadap pengobatan atau jika AML kambuh kembali.

Leukimia Limfostik Kronis (CLL)

Berikut ini adalah pilihan pengobatan leukimia limfositik kronis, diantaranya:

  • Terapi radiasi. Ini dapat digunakan untuk mengobati kelenjar getah bening yang bengkak karena terlalu banyak limfosit abnormal.
  • Cara ini merupakankombinasi dari leukimia, termasuk antibodi monoklonal.
  • Ketika CLL tidak respon terhadap pengobatan, atau jika kambuh kembali setelah pasien telah reda gejalanya selama beberapa waktu tertentu, cara mengobati leukimia yang seperti ini adalah dengan kemoterapi lebih atau transplantasi sumsum tulang.

Pasien CLL tidak mampu melawan infeksi dengan baik. Pasien dan dokter perlu untuk waspada dan memeriksa apakah ada tanda-tanda infeksi, seperti pneumonia (infeksi paru) atau infeksi jamur. Pengobatan dini akan membantu pasien bertahan hidup lebih lama. Obat leukimia disesuaikan dengan tingkat keparahan leukimia yang diderita oleh pasien.

Leukimia Mieloblastik Kronis

Leukimia mieloblastik kronis (CML) perlu diobati dengan segera. Bagi orang-orang yang baru didiagnosis pada tahap awal CML (fase kronis), tyrosine kinase inhibitor dapat bekerja selama bertahun-tahun. Jika pasien tidak menunjukan kekambuhan, pasien tidak perlu melakukan transplantasi sumsum tulang. Tetapi jika pasien kambuh, sebaiknya pasien melakukan transplantasi sumsum tulang.

Sementara untuk orang-orang yang didiagnosis CML pada tahap selanjutnya (fase akselerasi atau fasae krisis blast), pengobatan mungkin melibatkan kemoterapi atau tyrosine kinase inhibitor sebelum dilakukannya transplantasi sumsum tulang guna meningkatkan kemungkinan keberhasilan operasi transplantasi sumsum tulang.

Post Author: Fiqri Reinaldi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.