Bahaya Narkoba Bagi Tubuh dan Cara Penanganan Narkoba

Menurut Guru Besar bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuudin, Prof Dr Muhammad Dali Amiruddin, Sp KK, FINSDV, mengatakan bahwa golongan psikotropika adalah zat atau obat, baik alami maupun sintetis, namun bukan narkotika yang berkhasiat aktif terhadap kejiwaan (psikoaktif) melalui pengaruhnya pada susunan syaraf pusat sehingga menimbulkan perubahan tertentu pada aktivitas mental dan perilaku.

Psikotropika yang sering disalahgunakan adalah amfetamin, ekstasi, sabu, obat penenang seperti mogadon, rohypnol, dumolid, lexotan, pil koplo, BK. Termasuk sabu-sabu merupakan kelompok psikotropika yang merupakan stimulans sistem saraf dengan nama kimia methamphetamine hidrochloride, yaitu turunan dari stimulan saraf amfetamin.

Sabu-sabu dikenal juga dengan julukan lain seperti glass, meth, quartz, hirropon atau ice cream, dan lainnya. Sabu-sabu umunya berbentuk Kristal berwarna putih seperti gula pasi. Metamfetamin murni bentuknya seperti pecahan kristal kaca tidak berwarna. Rumus kimia yang di timbulkan adalah (S)-N-methyl-l-phenylpropan-2-

Dahulu metamfetamin digunakan tentara ketika berperang untuk menghilangkan rasa takut dan untuk membuat lebih agresif, seperti pada perang dunia yang digunakan oleh tentaran Jerman, Rusia dan Jepang. meamfetamin dibuat dari Amfetamin yang awalnya digunakan sebagai inhaler perpanasan (nasal decongestant & bronchial inhaler) dan senyawa ini aktif bekerja dalam waktu 6-8 jam.

Bahan ini dapat meningkatkan aktifitas dan juga dipakai untuk menurunkan nafsu makan dalam rangka menguruskan badan. Pada tahun 1950-an Shabu-Shabu banyak digunakan untuk keperluan medis. Tetapi setelah diketahui berbahaya dan dapat digunakan untuk kejahatan, maka sekarang pengguanaan legalpun sangat ketat sekali.

Sabu-sabu dikonsumsi dengan cara membakarnya diatas alumunium foil atau pipa kaca capiler/pipet sehingga mengalir dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Kemudian asap yang di timbulkan dihirup dengan sebuah Bong (sejenis pipa didalamnya berisi air). Air Bong tersebut berfungsi sebagai filter karena asap tersaring pada waktu melewati air tersebut.  Sebagian pemakai memilih membakar sabu dengan pipa kaca atau pipet karena takut efek jangja panjang yang mungkin ditimbulkan alumunium foil yang terhirup.

Sabu sering dikeluhkan sebagai penyebab paranoid (rasa takut yang berlebihan), menjadi sangat sensitif (mudah tersinggung), terlebih bagi mereka yang sering berfikir tidak positif dan halusinasi visual. Masing-masing pemakai mengalami efek tersebut dalam kadar yang berbeda.

Efek Samping Yang di Timbulkan Sabu-sabu

Sabu mempunyai pengaruh yang sangat kkuat terhadap syaraf. Pengguna sabu cenderung untuk menggunakannya dalam jumlah yang banyak dalam satu sesi untuk berhenti kecuali sabu yang dimiliki telah habis dan pengguna juga akan selalu merasa tergantung pada sabu tersebut.

Pengaruh pemakaian langsung dapat menyebabkan nafsu makan berkurang, kecepepatan nafas dan denyut jantung meningkat secara tidak normal, demam tinggi, pupil melebar, rasa nyaman, energi dan kepercayaan diri meningkat secara tidak normal, susah tidur, hiperaktif dan banyak bicara, mudah panik, mudah tersinggung, mudah marah dan agresif, pembuluh darah dapat pecah yang menyebabkan kematian.

Pengaruh terhadap tubuh bisa dialami dengan berbagai manifestasi akibat kerusakan organ sistemik akibat gangguan sistem imun, hipertermi dan malnutrisi. Sistem sirkulasi akan mengalami kenaikan tekanan darah, kerusakan pembuluh darah otak, dan stroke.

Gangguan jantung akan menyebabkan nyeri dada, peningkatan denyut jantung dan serangan jantung. Selain itu terjadi kerusakan hati, diatasi pupil, nafas menjadi lebih pendek, kerusakan ginjal dan gangguan motorik berupa kejang, kehilangan koordinasi.

Bila penggunaannya dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi dan penyakit, berisiko tinggi kurang gizi, dapat mengalami gangguan jiwa ketergantungan, keracunan terhadap logam berat dan alumunium foil.

Sedangkan bila pecandu mengalami gejala putus obat menyebabkan cepat marah, tidak tenang/gelisah, cepat lelah, tidak bersemangat/ ingin tidur terus.

Amfetamine dapat disalahgunakan melalui cara inhaler, penyalahgunaan obat yang tidak rutin (occasional abuse), penyalahgunaan obat yang kronik (chronic oral abuse), penyalahgunaan melalui intravena (intravenous abuse). Diagnosa biasanya berdasarkan riwayat penggunaan amfetamine dan gambaran klinik dari intoksikasi obat Simptomimetik.

Amfetamine dapat dideteksi melalui urine dan cairan lambung. Bagaimanapun kadar serum kuantitatif tidak berhubungan dengan beratnya efek klinis. Amfetamin ditemukan sangat cepat setelah penggunaan dan dieksresi hanya beberapa hari.

Toksisitas sangat kurang berhubungan dengan kadar dalam serum. Dilaporkan pula bahwa untuk mendeteksi penyalahgunaan amfetamine dapat diperiksa pada rambut manusia. Pada keringat amfetamine dapat dideteksi segera setelah dikonsumsi.

Saliva atau air liur dapat digunakan pula sebagai bahan untuk mendeteksi amfetamine. Tetapi kadar obatnya jauh lebih rendah daripada dalam urine, biasanya dapat digunakan pada keadaan toksik akut.

Penanganan Rehabilitas Ketergantungan Sabu-sabu

Kunci rehabilitas narkoba adalah melakukannya secepat mungkin. Untuk itu di perlukan psikiater atau ahli adiksi yang dapat menangani masalah ketergantungan narkoba.

Sebagaimana pecandu lain, pecandu Sabu seringkali menyangkal kondisinya dan sulit diminta untuk melakukan rehabilitasi. Biasanya dibutuhkan intervensi keluarga atau teman untuk memotivasi dan mendiring pengguna sabu untuk mau menjalani rehabilitasi.

  • Pengobatan medis

Penanganan dengan obat-obatan akan dilakukan dalam pengawasan dokter, tergantung dari jenis narkoba yang digunakan. Penggunaan narkoba jenis heroin atau morfin, akan diberikan terapi obat seperti methadone. Obat ini akan membantu mengurangi keinginan memakai narkoba.

Obat jenis lain yang dapat digunakan untuk membantu rehhabilitasi narkoba adalah naltresxone. Namun, obat ini memiliki beberapa efek samping dan hanya diberikan pada pasien rawat jalan, setelah ia menerima pengobatan detoksiffikasi. Naltrexone akan menghalangi efeknarkoba berupa perasaan senang, bahagia, sehat, dan meredanya rasa sakit, serta mengurangi keinginan ntuk mengonsumsi narkoba.

  • Konseling

Konseling merupakan bagian penting dalam mengobati penyalahgunaan narkoba. Konseling yang di lakukan oleh konselor terhadap penguna narkoba dalam rehabilitasi akan membantu si pengguna mengenali masalah atau prilaku yang memicu ketergantungan tersebut. Konseling biasanya dilakukan secara individu. Meski demikian, tak tertutup kemungkinanuntuk melakukan konseling secara berkelompok.

Konseling bertujuan untuk membantu program pemulihan, seperti memulai kembali perilaku hidup sehat ataupun strategi menghadapi situasi yang berisiko penggunaan nerkoba kembali terulang. Konselor bertanggung jawab untuk memahami bagaimana kecanduan narkoba pada seseorang secara keseluruhan, sekaligus memahami bagaimana kecanduan narkoba pada seseorang secara keseluruhan, sekaligus memahami lingkungan sosial yang ada di sekitarnya untuk mencegah terulangnya penyalahgunaan narkoba.

Penanganan untuk mengatasi dampak ketergantungan narkoba perlu melibatkan berbagai aspek lainnya, seperti aspek sosial dan dukungan moral dari orang terdekat dan lingkungan sekitar. Tak jarang pecandu narkoba dapat kembali beraktivitas normal dan menjalani hidup dengan lebih baik setelah menjalani penanganan medis, ditambah dukungan moral dan sosial yang baik.

Bantuan Rehabilitasi

Bantuan rehabilitasi bagi para pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkoba di Indonesia merujuk pada Peraturan Bersama tentang Penanganan Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi yang diterbitkan pada tahun 2014. Bantuan rehabilitasi juga merujuk pada Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2011.

Kedua peraturan ini memastikan para pengguna narkoba mendapatkan layanan rehabilitasi yang diperlukan dan tidak lagi ditempatkan sebagai pelaku tindak pidana atau kriminal.

Mereka dapat melaporkan diri pada Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) resmi yang tersebar di seluruh Indonesia, yang terdiri dari Rumah Sakit, Puskesmas, serta Lembaga Rehabilitasi Medis, baik milik pemerintah atau swasta. Sejak diresmikan pada tahun 2011, kini jumlah IPWL di seluruh Indonesia sudah mencapai 274 institusi.

Seluruh IPWL yang tersedia memiliki kemampuan melakukan rehabilitasi medis, termasuk terapi untuk menangani gejala, program detoksifikasi, terapi penyakit komplikasi, maupun konseling. Sedangkan IPWL berbasis rumah sakit, juga dapat memberikan rehabilitasi medis yang memerlukan rawat inap.

Tahapan Rehabilitasi Medis

  • Tahap pertama, tahap rehabilitasi medis (detoksifikasi), yaitu proses dimana pecandu menghentikan penyalahgunaan narkoba di bawah pengawasan dokter untuk mengurungi gejala putus zat (sakau). Pada tahap ini pecandu narkoba perlu mendapat pemantauan di rumah sakit oleh dokter.
  • Tahap kedua, tahap rehabilitasi non medis, yaitu dengan berbagai program di tempat rehabilitasi, misalnya program therapeutic communities (TC), pendekatan keagamaan, atau dukungan moral dan sosial.
  • Tahap ketiga, tahap bina lanjut, yang akan memberikan kegiatan sesuai minat dan bakat. Pecandu yang sudah berhasil melewati tahap ini dapat kembali ke masyarakat, baik untuk bersekolah atau kembali bekerja.

Permohonan rehabilitasi narkoba dapat dilakukan melalui situs daring milik Badan Narkotika Nasional (BNN).

Ada beberapa syarat yang perllu dipenuhi sebelum seseorang dapat menjalani program rehabilitasi narkoba tersebut, antara lain kelengkapan surat permohonan rehabilitasi, hasil tes urine, hasil pemeriksaan medis secara keseluruhan, kesediaan orang tua atau wali dapat mewakili, dan persyaratan administratif lainnya.

Indonesia juga telah memiliki beberapa rumah sakit khusus penanggulangan narkoba, di antaranya Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) yang berada di kawasan Jakarta Timur. Rumah sakit yang didirikan tahun 1972 itu memang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, yang secara khusus memberikan layanan kesehatan di bidang penyalahgunaan narkoba.

Yang  perlu dipahami, proses  melepaskan diri dari narkoba untuk penggunanya tidaklah mudah. Selain menjalani rehabilitasi narkoba, mereka juga membutuhkan dukungan keluarga dan masyarakat agar dapat kembali menjalani hidup sehat dan produktif. Jika Anda atau orang yang Anda kenal sedang berjuang untuk melawan ketergantungan narkoba, jangan ragu untuk berkonsultasi ke psikiater.

Post Author: Fiqri Reinaldi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.